Jumat, 05 Februari 2016

Panembahan Budaya Nenek Moyang Rawajaya Bantarsari Cilacap

Panembahan Budaya Nenek Moyang
Panembahan Eyang Ragil Banda Yudha
Panembahan adalah kata yang identik dengan Agama Kejawen. Panembahan berasal dari kata sembah yang berarti memuja. Panembahan terletah di atas bukit kecil, tepatnya di Desa Rawajaya Bantarsari Cilacap. Konon cerita yang beredar Panembahan ini bekas tempat pemujaan terhadap roh-roh dewa oleh para nenek moyang.
Hingga saat ini, Panembahan Eyang Ragil Banda Yudha masih menjadi tempat pemujaan oleh Para Penokoh  Agama Kejawen. Orang-orang yang menyembah adalah para Cucu Eyang Ragil Banda Yudha yang berada di dalam maupun di luar daerah Cilacap. Pemujaaan biasa dilakukan pada malam Jumat Kliwon dn malam Minggu Pahing dengan membawa sesaji seperti kembang kemenyan, bunga tujuh rupa dan bahan-bahan lain. Juru Kunci Panembahan ini berada di Kaki Bukit Kecil Panembahan sekitar 10 meter ke selatan dari bukit. Beliau adalah Romo Triswono, pria kelahiran sekitar tahun 1940-an ini adalah keturunan generasi kelima dari Eyang Ragil. Kepribadian beliau adalah tokoh yang ramah, baik dan penyayang. Maka dari itu beliau sangat dihormati dikalangan masyarakat Panembahan.

Gambar 1.1.Tempat menyembah.


Gambar 1.2. Tangga menuju tempat penyembahan.


Panembahan adalah sebuah bukit kecil. Tempat ini selain sebagai tempat menyembah, juga dapat dinikmati keindahan alamnya. Kealamiannya yang cukkup terjaga sering dimanfaatkan untuk tempat refreshing bagi sebagian penduduk sekitar Panembahan. Udara yang sejuk dan rindangnya daun pepohonan menjadi daya tarik tersendiri. Kebudayaan yang masih terjaga diantaranya sebagai berikut :

Gambar 1.3.Pohon terbesar di Panembahan yang berumur sekitar 200 tahun.



Gambar 1.4.Batu yang unik di Panembahan.



 Gambar 1.5. Bibit tanaman yang berusia sekitar 1 tahun
Juga masih terdapat banyak lagi ragam alam yang ada di Panembahan ini.
Terima kasih kepada Eyang Triswono sebagai narasumber.
Sekian, inilah Panembahan di daerah saya. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.

8 komentar:

  1. terimakasih ojil, materinya.. aku pake buat bahan tugas bahasa jawa.. :D sukses selalu jil :D

    BalasHapus
  2. Apa sudah benar ditulis eyang Ragil Bandayudha kok gak ada spasinya seolah olah satu nama....padahal di lokasi makamnya dua tempat hanya jaraknya dekat.Aku sendiri sudah pernah kesana.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh minta Sherlock om, soalnya aq pernah kesana waktu kecil ntah sekarang sangat ingin kesitu.

      Hapus
    2. Eyang Bandayuda apa yang disebut dengan Ki Jaga Laut,untuk mengawasi segara anakan dari perampok....yang disisi barat di awasi oleh Ki Jaga Resmi.....
      Bila mana Raden Bagus Cemethi alias Ki Jaga Laut adalah Eyang Bandayuda
      beliau masih mempunyai 2 saudara yaitu Raden Bagus Klantung (Eyang Kalayuda) dan yang bungsu itu R.Ay Islamiyah (Eyang Ragil).....Dari ketiganya adalah anak dari seorang ibu dari Bulupitu Tunjung Seto,Kutowinangun yang bernama Dewi Retno...

      Hapus
    3. Ralat R.Ay Islamiyah (Eyang Ragil)

      Hapus
    4. R.Ay.ISBANDIYAH (Eyang Ragil)

      Hapus
  3. Ass. Saudara saudara apakah di wilayah Cilacap adakah petilasan atas nama Sanga Yuda ? Mohon infonya karena saya berdasarkan cerita nenek masih ada silsilah dari Sanga Yuda yang ada diwilayah Cilacap.

    BalasHapus
  4. Semestinya harusnya diceritakan dahulu alur sejarahnya....karena orang jaman dahulu mempunyai nama lebih dari satu...tujuannya untuk keamanan dari musuh...

    BalasHapus